Lelang Piringan Hitam Djanger Bali

FullSizeRender (2)FullSizeRenderimage

Mengambil dari penjelasan Alfred Ticoalu Arsip Jazz Indonesia:

Djanger Bali oleh Indonesian All Stars (IAS) merupakan salah satu dokumen penting karya seni khususnya dalam sejarah pertumbuhan musik jazz di Indonesia. IAS merupakan sebuah kelompok yang memainkan musik jazz dan para personilnya bisa dikatakan sebagai para pelopor musik jazz Indonesia; termasuk seorang pemain alat tiup jazz berkelas internasional dari Amerika Serikat. Tidak itu saja, penampilan mereka juga mendapat perhatian dan pengakuan dunia internasional.

Cikal bakal IAS sudah muncul sejak awal dekade 1960 dengan berkunjungnya Tony Scott ke Indonesia. Semasa Indonesia masih dipimpin Bung Karno, Tony Scott sempat berkunjung, bermusik dan mengajar di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut dia banyak berinteraksi dan bermain dengan para musisi jazz Indonesia pada waktu itu. Sayangnya keberadaan beliau tidak lama karena dia sempat membuat masalah dengan Bung Karno ketika dia tampil di Istana Negara yang menyebabkan dia diperintahkan untuk segera meninggalkan Indonesia.

Sesudahnya, saat dia di Eropa, Tony Scott bertemu dengan seorang produser, penulis, dan kritikus jazz terkemuka dari Jerman, Joachim E. Berendt, di mana Scott sempat bercerita tentang musisi-musisi jazz Indonesia yang dikenalnya. Pada sekitar awal 1966, Berendt berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan sebagian dari mereka. Sebagai tindak lanjutnya pada tahun 1967 Berendt dan rekan-rekannya memanggil mereka untuk tampil dan rekaman di Jerman sebagai Indonesia All Stars. Untuk menambah daya tarik kelompok ini, Tony Scott kembali dipadukan mereka.  Hal ini bagaikan pedang bermata dua: karena Scott sudah kenal dan tahu permainan mereka plus keberadaan Scott memberikan kemungkinan lebih besarnya animo calon pendengar.  Bagaimana pun, nama Tony Scott jauh lebih dikenal di Eropa saat itu ketimbang musisi-musisi Indonesiatersebut.

Dokumentasi rekaman IAS tercipta selagi mereka berada di Jerman Barat untuk tampil di Berlin Jazz Festival dan beberapa klub jazz. Walau pun pada waktu festival itu Maryono jatuh sakit keras di atas panggung sehingga kelompok tersebut tidak bisa tampil secara penuh, Bubi Chensempat ber-jam sessions bersama para musisi jazz internasional seperti Philly Joe JonesManfred SchoofTony Scott, dan lain-lain.

Rekaman mereka di SABA Records studio pada 27 dan 28 Oktober 1967 melahirkan sebuah album yang berjudul “Djanger Bali”. Album ini kemudian sempat dilepas kembali di awal 1969 atau 1970 ketika SABA diambil alih atau dikonsolidasikan dengan MPS/BASF. Dalam bentuk digital, kita masih bisa mendapatkan album tersebut sebagai rangkaian produk dari MPS “Jazz Meets the World No. 2: Jazz Meets Asia”.

Para pemain IAS secara lengkapnya adalah Bubi Chen (piano, kecapi), Jack Lesmana (gitar), Maryono (tenor sax, flute & vokal), Yopi Chen(bass), Benny Mustafa van Diest (drum) serta seorang bintang tamu yang sudah akrab dengan mereka semua sebelumnya Tony Scott (klarinet). Selain dipercaya sebagai pianis kelompok tersebut, Bubi Chen juga membawa kecapi untuk mengusung identitas instrumen tradisional Indonesia untuk menunjukkan tempat asal mereka. Dan juga sekiranya untuk menunjukan kekayaan eksplorasi yang dapat dikembangkan lewat musik jazz dengan berbagai bentuk kebudayaan dari sepenjuru dunia. Di samping itu, hal ini adalah usaha mereka untuk memperkenalkan musik tradisional Indonesia yang dipadukan dengan jazz ke dunia internasional sebelum kelompok-kelompok kontemporer sesudahnya, seperti Krakatau, yang kita kenal sekarang melakukan hal yang serupa.

Dalam album ini terdapat 6 komposisi yang terdiri dari 3 komposisi tradisional Indonesia, 1 komposisi baru bernafaskan tradisional, 1 komposisi standard, dan 1 komposisi baru pada saat itu dari Eropa. Dari sisi tradisional, ‘Djanger Bali’ (karya Bubi Chen), ‘Gambang Suling’, ‘Ilir-Ilir’, dan ‘Burungkaka Tua’. Dari sisi standard ‘Summertime’ sementara dari sisi kontemporer Eropa ‘Mahlke’.

Menurut Bubi Chen, ‘Djanger Bali’ ditulisnya berdasarkan inspirasi dari tarian tradisional populer dari Bali ‘Djanger’.  Seperti yang bisa kita bayangkan, komposisi dan improvisasi nya merujuk kepada salah satu tangga nada musik klasik tradisional dari Bali. Sisipan bunyi gamelan dari Bali lewat dentingan piano muncul di awal dan akhir komposisi ini sementara di antaranya dimunculkan kesan tersebut dengan suara gitar yang seolah-olah menjadi suara gong.

Komposisi selanjutnya adalah ‘Mahlke’.  Sayangnya, ‘Mahlke’ hanya bisa didapatkan di piringan hitam karena lagu tersebut tidak diturut sertakan dalam bentuk digital ketika dilepas ulang dalam bentuk CD. Bagaimana sampai mereka dapat berpikir untuk memainkan lagu tersebut dan merekamnya? Joachim Berendt ketika datang ke Indonesia membawa pita kaset album milik Attila Zoller hasil rekaman-nya untuk SABA yang saat itu masih dalam proses mastering dan belum dilepas secara umum. Di dalamnya terdapat ‘Mahlke’, yang sebenarnya merupakansound-track dari sebuah film Jerman yang berjudul “Katz und Maus,” yang diangkat dari hasil karya tulis Gunter Grass. Setelah Jack Lesmana mendengar lagu tersebut, dia menjadi gemar dan dalam waktu singkat mampu menguasainya. Ketika IAS diboyong ke Jerman, mereka sudah  bisa memainkan lagu itu secara baik dan akhirnya direkam sebagai salah satu lagu di dalam album “Djanger Bali”. Nampaknya ini dilakukan sebagai daya upaya untuk memancing orang-orang yang tidak atau kurang mengerti musik tradisional Indonesia – yang dikombinasi jazz – untuk mengetahui kalau mereka ini  juga dapat memainkan komposisi straight ahead. Solo Jack Lesmana menunjukkan secara tegas kepiawaian dirinya sebagai salah satu gitaris jazz terhandal dari negeri kita sepanjang masa.

Permainan kecapi Bubi Chen dan flute Maryono dalam ‘Gambang Suling’ menambah kesyahduan nuansa Jawa di album ini. Teknik call and response yang dilakukan secara gemulai oleh Bubi Chen lewat dentingan piano dan petikan kecapinya memberikan makna terdalam dalam improvisasi komposisi ini. Selipan double-time yang cerdik memberikan nuansa penuh swing. Ini juga menunjukkan pengaruh tradisi gamelan Bali dengan dinamika yang sangat menonjol.

Lirik ‘Ilir-ilir’ dinyanyikan oleh Maryono namun sepertinya tidak dengan penghayatan yang mendalam. Namun demikian, solo saxophone Maryono di komposisi ini menunjukkan kelas beliau sebagai seorang instrumentalis kelas dunia yang layak disandingkan dengan Archie Shepp; yang menurut penulis merupakan salah satu sumber inspirasi teknik dan solo improvisasinya.

‘Burungkaka Tua’ merupakan contoh teknik permainan modal yang paling menonjol di album ini. Jika didengar secara sekilas mungkin anda tidak bisa mengenali komposisi ini sebagai ‘Burungkaka Tua’ yang akrab dalam benak anda.  Secara linear dan dekonstruktif, komposisi ini dipilah dan didaur ulang sedemikian rupa menjadi sebuah komposisi baru yang menawan.

‘Summertime’ menunjukan IAS menguasai komposisi standard ini dan bahkan dengan citra latar musik Sunda memberikan identitas khas yang hanya bisa dilakukan oleh kelompok ini. Solo improvisasi Bubi Chen merupakan bagian terpenting dari komposisi  ini. Secara unik, dia juga secara langsung, sengaja atau tak sengaja, menunjukkan latar belakang musik klasik yang masih cukup kental dalam dirinya pada saat itu. Pengaruh berbagai komposisi piano karya Chopin bisa didengar dalam solonya.

Menariknya secara global pada waktu itu gerak musik jazz sedang dalam masa penuh semangat mencari pendekatan baru untuk mengembangkan interaksinya dengan jenis musik lain. Hal ini menjunjukan juga ide segar dan keberanian IAS yang tentunya didukung oleh dorongan dan visi akan perkembangan musik jazz di Indonesia khususnya.

***

Melalui lelang ini kami ingin mengumpulkan dana untuk Tur Tesla Manaf ke Jepang. Kondisi piringan hitam Djanger Bali MPS Jerman ini mint (90 persen) dan dibuka dengan harga 1,5 juta rupiah. Untuk rekan-rekan yang ingin ikut, silakan memberikan penawarannya di kolom komentar dan kirimkan biodata ke substore14@gmail.com. Bilamana email data belum kami terima, penawaran dalam kolom komentar tidak akan diindahkan.

Pelelangan akan ditutup pada tanggal 31 Januari 2016.

 

 

Advertisements

@Substore_ X @Teslamanaf on Japan Tour

Berawal dari melihat Tesla Manaf beraksi bersama Mahagotra Ganesha, saya memutuskan untuk menjadi fansnya. Tahun 2011 tepatnya dan dari pengalaman baik tersebut saya mencoba untuk berkenalan dengan musisi yang tinggal di Bandung itu. Lewat media sosial kami sesekali bertukar pikiran dan saya melihat perkembangan Tesla semakin meningkat. Ia gemar sekali memberikan kejutan dengan ekperimen-eksperimennya. Dan di tahun 2015 saat saya kembali ke Bandung, saya memintanya main di pembukaan Substore Bandung. Dari situlah mulanya saya tahu tempat tinggal kami sangat dekat. Makin seringlah bertukar pikiran dan menemukan banyak kesamaan semangat, salah satunya adalah mendobrak batas.

Tesla mempunyai potensi besar, disiplin tinggi dan kegigihan. Ia bermusik dari hati, menjadi diri sendiri. Begitu pun halnya Substore, kami selalu senang mengenal musisi seperti Tesla. Terlebih membuat karyanya semakin dikenal, mendorong punggungnya untuk keluar dari zona nyaman dan menjadi penyemangatnya untuk berlari lebih jauh. Lalu tercetuslah ide gila mengajak Tesla untuk main di pembukaan Substore Tokyo, 12 Maret mendatang. Dengan keterbatasan dan berbekal kegilaan kami percaya tidak ada hal yang tidak mungkin.

Esok harinya Tesla mendapatkan kabar baik, Masahide Goto, salah seorang teman di Facebooknya berkenan untuk membantu mencari koneksi untuk tur keliling Jepang. Kami pun mulai membuat strategi pencarian dana dalam waktu sesingkat-singkatnya, kemudian merilis versi Indonesia album Tesla Manaf yang bertajuk; A Man’s Relationship with His Fragile Area.

Salah satu upaya penggalangan dana adalah dengan melelang piringan hitam Djanger Bali rilisan MPS Jerman dan turntable Lenco L78.

Besok saya akan mengunggah mekanisme lelang berikut informasi rinci barang yang akan dilelang serta harga pembukaan. Lelang berlangsung satu minggu terhitung sejak besok. Untuk yang berminta mengikuti lelang, silakan meninggalkan alamat email di kolom komentar di bawah ini. Terimakasih sudah menyempatkan diri membaca tulisan ini. Mohon dibantu untuk disebarkan.

 

 

Salam hangat,

 

 

Intan Anggita

Co-founder Substore

 

Gairah Rilisan Fisik Kini

Beberapa saat yang lalu sebuah toko musik besar mengumumkan penutupan beberapa cabangnya, linimasa di media sosial sontak bereaksi sedih dan prihatin. Namun di saat yang sama toko musik kecil kian menjamur dan bertambah banyak. Coba cari kata kunci bertanda pagar piringan hitam, CD lokal, jajan rock, kaset di instagram; niscaya akan ditemukan berbagai toko musik kecil di berbagai belahan daerah berjualan rilisan fisik sampai dengan alat pemutar rilisannya. Bagai berjalan menuju kenangan masa lalu, mereka menjajakan nostalgia berikut cerita-cerita yang selalu menarik untuk disimak.

Uniknya mereka bisa bertahan di tengah isu rilisan fisik terkalahkan oleh rilisan digital. Untuk sebagian penggemar rilisan fisik, romantisme mencium aroma kertas pembungkus, meraba karya seni di sampul dan mengejar rilisan yang disukai dapat memacu adrenalin. Gairah-gairah semacam itu takkan tergantikan oleh rilisan digital.

Toko-toko musik kecil yang jumlahnya lebih banyak daripada media penyedia streaming musik legal mengakui keberadaannya bisa terselamatkan oleh modal kecil, bahkan tanpa harus menyewa tempat mereka tetap dapat berjualan memanfaatkan media sosial. Setahun sekali wujud-wujud asli mereka dapat ditemui di ajang Record Store Day.

Geliat rilisan fisik sudah terlihat sejak 5 tahun silam. Tapi sebenarnya kolektor rilisan fisik sudah eksis sejak lama. Ada pula yang tetap bertahan dari era remajanya hingga kini mengumpulkan aneka rilisan fisik. Lalu bagaimana dengan mereka yang baru saja menjadi pengumpul rilisan fisik? Jumlahnya selalu bertambah dan memberikan warna baru dunia musik Indonesia.

Kerapkali ditemui anak muda yang mendengarkan musik sambil menggali jejak sejarah, tempat loak menjadi salah satu tempat penampung harta karun, tak jarang juga ada yang berkelana ke radio-radio sambil berharap dapat mengakses rilisan fisik promo radio di masa lampau (piringan hitam khusus promo radio) atau mempunyai hobi baru datang di pertemuan keluarga besar bertanya-tanya tentang rilisan fisik bekas nenek kakek seraya menanti lungsuran mereka yang tersisa.

Untuk mereka yang beruntung mendapatkan lungsuran jejak alat pemutar rilisan fisik, baik itu pemutar piringan hitam atau kaset (pemutar CD masih mudah dicari) tidak perlu bingung mencari tahu bagaimana cara memperbaiki. Para penyuka rilisan fisik akan dengan senang hati berbagi kontak  teknisi yang mampu memperbaiki. Bagi yang baru ingin memulai ada yang memilih untuk menjadi pengumpul tanpa mempunyai alat pemutar namun ada pula yang membeli alat pemutar terlebih dahulu. Kini banyak pilihan pemutar piringan hitam yang tersedia di pasaran,perlu referensi untuk mengetahui apa yang dicari. Untungnya pemutar kaset masih bisa ditemui di beberapa tempat.

Banyak cara untuk mendapatkan rilisan fisik. Bergumul di tengah komunitas para pengoleksi atau bergerilya, menyusup rumah-rumah yang disinyalir menyimpan aneka rilisan fisik. Pengoleksi bisa tetap santai atau menjadi pemburu yang gahar. Tanpa terasa pengetahuan musik pun bertambah dan apresiasi terhadap musik meningkat. Untuk para pengoleksi yang sehari-harinya bermusik, mereka menjadi musisi yang kaya referensi. Sedangkan pengoleksi yang sekedar hobi, kenikmatan tersendiri saat melihat koleksinya membuat lemari sesak. Ada kebanggaan dan cerita-cerita unik di balik perburuan yang selalu diceritakan berulang pada sejawat yang berkunjung.

Banyak perubahan dalam hidup saat asyik menjadi pengoleksi rilisan fisik. Terjebak manis merawat barang-barang kesayangan, meluangkan diri untuk memutarnya satu persatu, di tengah aktivitas ada upaya-upaya menyisipkan sesaat untuk mendengarkan rekam jejak musik dengan cara yang lebih membutuhkan perhatian khusus. Bonusnya adalah perasaan riang saat menikmati waktu terasa melambat.

Tulisan ini pernah dimuat di http://www.djarumcoklat.com/special-author/gairah-rilisan-fisik-kinirilisan fisik.jpg

Spearmint – A Different Life Time

image

Being in love, Falling in love, and Saying goodbye. Keseluruhan emosi itu di rangkum dalam 15 track dengan sound yang tenang dan polos. Kalian nggak bisa dengerin album ini pada track – track terbaik mereka saja. Ini adalah album yang perlu didengar dari awal sampai akhir, seperti sebuah soundtrack film romantis. Kadang meluap – luap, lalu tiba – tiba jatuh dalam kepedihan. lirik – lirik sensitif, dengan melodi vocal yang baik. Pada beberapa track kita bisa langsung terbawa suasana, bertemu perempuan idaman, kemudian memberanikan diri untuk berkenalan, mungkin berjalan bersama disekeliling taman, dan pada akhirnya harus mengucapkan perpisahan. Track tergalau jatuh kepada Solace,menangkap perasaan seseorang yang harus berpisah dengan orang yang ia cintai. Tapi dengan bumbu optimisme ketimbang berlarut – larut dalam kepedihan. Dan perasaan berterimakasih bahwa ia sudah diberikan kesempatan mengenal sosok orang yang ia cintai itu. “we both knew that it would end at some point. it just so happens that its now to realise that i am alone seems strange”. Track termanis jatuh kepada wrapped up together, cerita singkat bermalas – malasan di atas ranjang bersama orang yang dicintai. Nggak tau kenapa nama mereka nggak sebesar deretan musisi britpop di zamannya, tapi album ini layak dibeli dan didengarkan bersama pacar atau bisa jadi kado buat orang yang lagi kalian deketin. 12″ | Spearmint | A different lifetime | 2001 UK | 250k #substore #pasarsantamodern #vinyl #piringanhitam #jajanrock #santamusicclub #spearmint #britpop #britrock #jajanvinyl #jajanpiringanhitam

staff pick by Bismo

The Third Man

imageDiawali dengan sebuah prolog “I never knew the old Vienna, before the war…” Diproduksi dan disutradari oleh Carol Reed seorang film maker berbakat dari Inggris. Berlatar waktu pasca perang di Vienna, Austria. Alurnya berjalan pelan, seperti kepulan asap rokok yang mengembang di udara. Membuat kita terus menebak – nebak, apa yang akan terjadi berikutnya. Film ini akan membawa kalian dalam pengalaman misteri, namun juga romantisme yang cerdas pula melelahkan di sisi lain. Mengangkat tema laki – laki yang kehilangan jati diri dan upaya untuk menemukannya, juga pengkhianatan. Noir Klasik, drama dengan balutan gaya visual hitam putih yang akan membuat kita sedikit mengkerutkan kening ketika menyaksikannya. “Nobody thinks in terms of human being. Goverments dont. Why should we? They talk about the people and the proletariat, I talk about the suckers and the mugs – its the same things. they have their five year plan, so I have…” ,ungkap Harry Lime tokoh utama dalam film tersebut yang diperankan oleh Orson Welles. DVD Movies | The Third Man 1949 | 180k. Beli, putar, kunci kamar, matikan lampu, biarkan film ini membawa kita kedalam pengalaman hidup Harry Lime yang penuh misteri. #substore #pasarsanta #film #dvdmovie #noir #jajandvd #thriller #fiction #mystery #nonton #videogram #classic #vscofilm Continue reading “The Third Man”

Acquired Taste

imageDVD Video Compilation | Acquired Taste | SUB POP | Released 2006 @subpop adalah label rekaman yang dikenal dan terkenal karena melahirkan musisi – musisi grunge. Tapi tidak hanya musisi grunge, ada juga band rock seperti @sleater_kinney dan band electro pop @thepostalservice . Kalian yang suka video footage cocok banget beli DVD ini. Sekali – sekali lihat video band dari DVD bolehlah. Berikut adalah band yang videonya ada di DVD keren ini ; The Shins, Ugly Cassanova, Iron and Wine, The Postal Service, Hot Hot Heat, Kinski, Mudhoney, Sleater Kinney, dan masih banyak lagi. Buruan beli harganya cuman 260 ribu lho! #substore #pasarsanta #DVD #subpop #sleaterkinney #santamusiclub #jualdvd #musicvideo #musicvidgram

  • staff pick by Bismo

MUERTE

imageWarga negara Mexico dua hari yang lalu merayakan All Saints Day atau juga dikenal sebagai The Day of The Death. Di buku “MUERTE! death in mexican popular culture” kalian bakal disuguhi foto- foto, artikel, yang isi nya tentang kematian sebagai bagian dari budaya populer warga negara Mexico. Di Mexico sana, darah itu bagian dari ibadah, hiburan, bahkan sebuah majalah bernama ALARMA! merangkum berita-berita kematian lengkap dengan cerita dan foto yang bebas sensor, mulai dari insiden kecelakaan sampai pembunuhan berencana. Buku ini cocok banget buat kalian yang suka horror, gore picture, cerita-cerita pembunuhan, dan yang tertarik sama budaya Mexico, siapa tahu kalian terinspirasi setelah baca buku ini. Book | MUERTE! Death In Mexican Popular Culture | Edited: Harvey Bennett Stafford | 160k

image