Press Release Catalyst Art Market 6

Kemarin kami diajak berkolaborasi oleh Kopi Keliling dalam gelaran Catalyst Art Market. Berikut press release-nya.

catalyst art market

Jakarta, 11 April 2016 – CATALYST ART MARKET | Catalyst Art Market, sebuah bazar seni yang digagas oleh Catalyst Arts kembali digelar untuk keenam kalinya sebagai wadah untuk menunjukkan beragam karya seni dan merchandise dari seniman, ilustrator dan merek lokal yang kreatif.

Acara ini berlangsung mulai dari 30 April sampai 1 Mei 2016 di Graha Purna Wira, Jl Darmawangsa 3 no 2, Jakarta Selatan dengan melibatkan lebih dari 40 tenant, di antaranya Ruth Marbun, Citra Marina, Elicia Edijanto, Resatio Adi Putra, Galih Sakti, Sarita Ibnoe, Heimlo, Fika Julia, Wickana Laksmi Dewi, dan masih banyak lagi. Sejak pertama kali diselenggarakan, Catalyst Art Market semakin mencuri perhatian para penikmat seni maupun masyarakat awam dan tentunya juga memberikan pengalaman unik bagi setiap pengunjung yang datang.

Raymond Malvin, co-founder Catalyst Arts mengatakan, “Kami menilai apresiasi masyarakat terhadap seni visual semakin meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya pihak yang mengaplikasikan ilustrasi ke dalam sebuah produk, baik itu brand, media dan lainnya. Selain itu, ketertarikan masyarakat untuk mengoleksi merchandise dan karya seni juga semakin meningkat. Sejalan dengan hal tersebut, Catalyst Arts terus berupaya untuk menciptakan dan mengembangkan pasar bagi para seniman dan illustrator muda Indonesia.” “Dengan adanya Catalyst Art Market, kami ingin memberikan kemudahan bagi orang yang ingin membeli sebuah karya seni berkualitas dengan harga yang terjangkau, baik untuk koleksi pribadi maupun sebagai hadiah untuk diberikan ke orang lain. Dalam Catalyst Art Market ini, kami mengumpulkan beragam seniman dan illustrator muda dengan gaya yang berbeda-beda, sehingga pengunjung dapat memilih sesuai selera,” tambah Raymond. Di Catalyst Art Market ini, pengunjung juga bisa merasakan langsung proses berkarya lewat sebuah workshop kreatif. Ada tujuh workshop yang akan diadakan saat Catalyst Art Market 6, yaitu tie dye oleh Eva Joewono, sculptural ceramic oleh Argya Dhyaksa, lettering oleh Muli Ong, leathercrafting oleh Nerdmob, head drawing oleh Varsam Kurnia, paper marbling oleh Yonaz Kristy Sanjaya, dan Renjana oleh Zodiak Gembira. Patricia Wulandari, co-founder Catalyst Arts menambahkan, “Para pengunjung berkesempatan untuk belajar membuat sebuah karya seni atau menyalurkan jiwa kreatif mereka. Kami mengajak seniman atau ilustrator berpengalaman untuk berbagi ilmu dengan menjadi mentor dalam workshop dan mengajarkan beragam teknik yang bisa dinikmati pengunjung dari segala umur.” Tidak hanya itu, Catalyst Art Market juga selalu mengkombinasikan seni visual dengan musik agar acara semakin meriah.

Di volume keenam, Catalyst Art Market bekerjasama dengan Substore untuk menghadirkan alunan musik dalam format piringan hitam yang dikurasi oleh beberapa DJ vinyl dalam dan luar negeri, yaitu Baba Masamichi, Dick Tamimi (David Tarigan), Dr Satomata (Shun), Dua Sejoli, Ken dan Margalo, Uda Sjam (Saon), Zaenal (Aben), dan Zafier. Sebagai penutup, di hari terakhir Catalyst Art Market 6 akan ada penampilan spesial dari duo vokal AriReda yang terkenal dengan ciri khasnya menyanyikan sajak-sajak para penyair Indonesia dengan nuansa romantis.

Catalyst Arts berharap melalui Catalyst Art Market, para seniman maupun ilustrator muda dapat lebih produktif dalam berkarya dan menjadi seorang creativepreneur, membentuk jejaring dengan sesama seniman atau ilustrator lain serta berkenalan langsung dengan para pengunjung yang berpotensi menjadi kolektor mereka. Selain itu, para pengunjung dan penikmat seni juga dapat berkenalan dan berbincang langsung dengan seniman dan ilustrator yang mereka sukai serta mengapresiasi karya mereka. “Dengan rutin menyelenggarakan Catalyst Art Market maka akan menciptakan ekosistem yang tumbuh secara organik dan berkelanjutan. Feedback positif yang didapat akan memicu seniman dan ilustrator untuk menciptakan karya yang lebih berkualitas, bermanfaat dan bisa disandingkan dengan produk asing yang ada di Indonesia. Ke depannya, produk-produk yang dihasilkan oleh para seniman atau ilustrator ini dapat masuk ke kancah internasional,” kata Patricia menutup pembicaraan. Tentang Catalyst Arts Catalyst Arts fokus sebagai wadah bagi seniman atau ilustrator muda yang ingin mempromosikan karya dan produknya ke masyarakat yang lebih luas lagi.

Selain itu, Catalyst Arts juga mengadakan workshop di setiap acaranya untuk mendorong para penggiat kreatif berbagi ilmu kepada orang awam dan meningkatkan kreativitas di kalangan anak muda. Dengan demikian, Catalyst Arts menjadi jembatan komunikasi di antara para penggiat kreatif dan penikmat karya kreatif, sehingga tercipta apresiasi yang lebih besar lagi dari sebuah karya seni.

Advertisements

Catatan Harian Tesla Manaf Selama Jepang Tur

Hi teman-teman, berikut adalah hasil dokumentasi kami selama tur Jepang kemarin:

DAY 1

– Shigget,

Secret show at Shiget’s

Dan hari ini banyak ketemu orang penting di musik salah satunya Takashi Mori yg pernah kerja sama dengan Siam Shade dan TOE.

1cf931cef2c5b766272297c772d4b3631d49fa47

DAY 2

SubStore & Electrik Jinja

1 hari 2 panggung. Dimulai dari soundcheck jam 5 sore lalu main jam 7-8 malam (1 sesi) lalu lanjut ke Electrik Jinja. Soundcheck jam 10 malam lalu main jam 11-2 pagi (2 sesi). Badan rontok tapi seru.

0a65e538f76790ea847101c826e8f16b528f1caf

Yang bikin seru selain pengunjung di SubStore full house itu, saya ketemu 2 orang ‘besar’ di dunia musik jazz Jepang.

Pertama Koji Ishizawa, dia penulis dari semua majalah jazz ternama di Jepang salah satunya Jazz Life. beliau sudah interview ratusan artis jazz dunia seperti Pat Metheny, Allan Holdsworth, Robert Glasper dll. Dan saya di interview dia kemarin!

Lalu yg paling girang ketemu saya itu Tatsunosuke Ide. Beliau adalah promotor hampir seluruh festival Jazz di Jepang termasuk Sapporo Jazz festival dan Blue Note Japan. Beliau juga punya label, manajemen, dan booking agent. Katanya selama mereka berkarir menjadi promotor dan berkerja dengan ratusan artis, mereka tidak pernah dengar musik seperti saya sebelumnya. Senangnya!

cab9373eb6eaf411b59f6527544472d116c1048d

DAY 3

Half Tone

d8d79ac40fbec50dbb0bb18bc9a9b4e6be75ec77

Ini tempat manggung paling mantep asli. Akustiknya gila. Soundnya kece banget. Dan vibe dari penonton positif banget. Di daerah Tachigawa, agak diluar Tokyo tapi ini venue terkenal untuk main jazz. Pemiliknya seneng banget sama musik kita. Selama 14 tahun kafe itu berdiri, baru denger musik kya kita katanya.

DAY 4

Label-label serta booking agent kita datengin. Ada label khusus Jazz yg nanganin banyak artis dunia macam Jonathan Kriesberg dan Adam Rogers. Terus ke label yg buat acara besar macam Summer Sonic. Pernah ngundang Glasper dan Snarky Puppy juga. Mei ini mereka ngedatengin Radiohead. Dan mereka tertarik banget sama musik kita.

DAY 5

GC Live Nagoya

Hari ini serunya parah sih. Penginapannya lucu. Yang nonton banyak dan apresiatif banget.

2840111a31fc0d243dcc7ee5c97f6b991432d63d

DAY 6

Room 335

Parah intens banget. Pengaruh kota ini juga mungkin. Solo saya beneran gila gak nyangka bisa bunyi kya gitu. Banyak yg beli CD dan banyak musisi yg dateng. Seneng

04a3b3feeb0f8ae6337e05b1a5ef7eca82464e75

DAY 7

Puas-puasin jalan-jalan di Kyoto sebelum balik lagi ke Osaka.

DAY 8

f914b15993d448a77732f33dbc7e2b30fbcaaff9

JK Cafe

Last stages and the most beautiful day

Sakura mulai bermekaran di sepanjang jalan Osaka. Selain makanan khas mereka Takoyaki dan Okonomiyaki, Osaka castle memberikan kenangan yg luar biasa untuk kita semua.

Kita agak telat ke JK cafe karna terlewat kereta, dan akhirnya hanya main 1.5set. Tapi syukurlah show terakhir FULL HOUSE. bahkan ada yg nonton dari luar karna gak bisa masuk. Banyakkk yg beli CD, banyak banget yg appreciate. Ownernya seneng banget karna kita buat cafe dia penuh.

Terima kasih Tuhan untuk kesempatan yg luar biasa indah ini. Terima kasih untuk keluarga yg Kau sandingkan selama perjalanan tur ini. Terima kasih sebesar2nya pula untuk Masahide Goto manajer tur kita yg berkerja sempurna tanpa celah.

Pasti. Pasti banget kita akan kembali lagi.

PULANG
Akhirnya sampai Bandung tercinta

Terima kasih untuk semua teman2 yang sudah men-support kita semua, sudah memberikan energi besar yg tak habis2nya dan dukungan materi yg membuat kita berhasil menuntaskan Tesla Manaf Japan Tour.

I can’t describe how big my grateful is to met lovely, friendly, caring, flawlessly, uber-cool tour manager Masahide Goto. We’re both literally walk around Tokyo for about 3-6 hours at the first three days non-stop to looked and met Labels and Booking Agent. And Yes they all liked what we do and the music also. The shocking part is, Masa really knows many important people at the labels and it helps me a lot.

My pray is always for your health and succeed for your further future and also for your family. I have a good feeling abous us Masa, like you said; we will meet again this year, don’t know when but we will for sure. And I do pray your kindness to us will pay back by others. Lets pray for festivals, showcases and proper tour. And labels also.

Terima kasih juga untuk teman band (Hulhul, Khrisna, Desal) yg rela berjuang mati-matian untuk ini semua. Kalian semua selalu menjadi yg terbaik diatas panggung maupun dalam keseharian. Gw yakin pasti ada kesempatan lagi dan lagi di negara lain. Gw bakal berusaha menjelajah dunia dengan musik kita. Gw gatau kapan tapi pasti.

Untuk Intan dan Aria partner ugal2an saat berproses, kebaikan dan ketulusan hati kalian akan membuat kalian besar dan semakin besar dalam lini apapun. Kita dan semua orang butuh lebih banyak lagi orang2 seperti kalian berdua. Saya beruntung, beruntung sekali dipertemukan oleh kalian berdua.

KBRI Jepang kalian debest. Dikasih wisma super keren, dijemput pula di bandara. Kalian baik banget. Makasih banget mba Sayu mba Atik kang Ade kang Dhany. Dan makasih mas Nial Djuliarso sudah merekomendasikan orang2 super baik ini. Untuk Kevin, Agra, Aldi dan Teguh yg menjadi Host kita selama di Osaka. Kalian baik banget. Gw yakin kalian pasti besar di Jepang. Semangat belajar ya.

And for my Big Guy Leonardo MoonJune Pavkovic you opened every kind of opportunity and gave me believes that we can do this in many countries. Before I met you, I never thought my music career will be this far. And now, this way to far. I can’t thank enough for what you did to my music. You introduced me to the many kind people. And I’m so grateful and thankful for what you did. I hope we are both doing some tours together smile emoticon

Dengan bangga saya beritahukan bahwa ‪#‎TeslaManafJapanTour‬ telah berakhir. Tapi saya masih punya oleh2 untuk kalian semua. Bagi teman2 yg ingin tahu info puluhan Label besar, booking agent dan distributor di Jepang, bisa langsung kontak saya. Saya dengan senang hati memberikan info nama alamat no telp-nya ke kalian semua.

Terima kasih Tuhan sang maha baik.
Terima kasih Ouval rsch dan Andy Napit yg sudah meng-endorsed kita.
Terima kasih teman2 semua. Sampai bertemu di tur Negara lainnya.

Ada sedikit oleh-oleh.

Video ini dibuat sebagai bentuk rasa terima kasih kami ke teman-teman yang memberikan dukungan selama perjuangan kami menggalang dana Februari-Maret lalu.

Nantinya hasil dokumentasi kami kemarin di 4 kota (Tokyo, Nagoya, Kyoto dan Osaka) akan kami rujuk ke sebuah film pendek. Tanggal penayangannya akan kami beritahukan segera.

Terima kasih untuk semua teman-teman yang terlibat membantu baik secara langsung maupun tidak langsung. Para donatur yang berdonasi via kitabisa(dot)com akan kami berikan hasil film ini secara eksklusif nantinya.

Kami, Tesla Manaf, Intan Anggita, Aria Dwipa, Desal Sembada, Khrisna Alda dan Hulhul; mengucapkan banyak sekali terima kasih.

Written and directed by Gracia Tobing
Filmed by Aria Dwipa
Edited by Desal Sembada

Regards,

Tesla Manaf

Laporan Perjalanan Tesla Manaf Japan Tour

Konbanwa..

Teman-teman yang baik, kami sudah kembali lagi ke Indonesia membawa banyak cerita. Namun sebelum bercerita banyak mengenai tur yang berlangsung di 7 titik. Saya akan mengunggah anggaran yang terpakai saat tur kemarin.

Kami pun sekarang sedang dalam proses pengeditan film perjalanan kemarin, besar harapan teman-teman bisa hadir di pemutarannya. Tempat dan waktunya akan kami beritahukan secepatnya.

Link berikut ini memuat anggaran selama tur kemarin: https://drive.google.com/open?id=0B254yRMehfQZQU9B….

Tanpa bantuan kalian semua ini tidak akan terwujud. Kami mengucapkan jutaan terimakasih atas kebaikan hati kalian menjadikan project ini berhasil. Proud of Us!

salam hangat,

Intan Anggita

Mocca, We Loved Them..

Kami semua adalah fans berat Mocca, pionir musik independen asal Bandung yang mengusung aliran swing pop. Saat dikabari Mocca mendukung usaha kolektif tim kecil kami memberangkatkan Tesla. Rasanya tidak berlebihan mata berkaca-kaca karena merasa terharu, akhirnya ada yang mulai mengamini langkah kami untuk tur ke Jepang ini. Di saat sponsor sama sekali tidak membeli kabar, begitu pun pemerintah, orang-orang terdekatlah yang akhirnya memberi semangat.

Mocca merelakan piringan hitamnya bertajuk “Friends” untuk kami lelang melalui Instagram selama satu minggu. Sekitar 15 orang ikut dalam lelang. Lumayan menegangkan karena salah satu yang ikut malah sama sekali tidak memiliki akun Instagram. Dia hanya bisa mengintip lalu menginfokan pada saya untuk penawaran selanjutnya. Lucunya lagi setelah lelang ditutup masih saja ada yang ikut dan ada satu orang dari Thailand yang berani bayar berapa pun harga yang diminta. Tapi terlambat, Yanno Rizky telah menjadi pemenang lelang. Itu adalah uang pertama yang masuk di luar donasi di kitabisa.com. 1,5 juta pertama bagi kami.

Saya percaya pendekatan personal dan upaya-upaya seperti ini akan menarik lebih banyak perhatian publik, bahkan media dan menjadikan project ini lebih dikenal. Saat itu yang saya pikirkan seburuk-buruknya kami gagal mengumpulkan dana setidaknya banyak orang jadi lebih mengenal Tesla dan karyanya.

Terimakasih banyak untuk Mocca yang memberikan harapan pada musisi yang ingin memperkenalkan musiknya lebih luas lagi seperti Tesla. Tidak pernah ada mimpi yang terlalu tinggi.

IMG_2280

 

Lelang Piringan Hitam Mocca

Dilansir dari wesitenya Mocca:

Kabar baik datang dari sahabat kami Tesla Manaf seorang gitaris muda berbakat yang akan melangsungkan tour-nya ke Jepang. Rencananya kota Tokyo, Osaka, Nagoya dan Kyoto menjadi tujuan utama dalam tur ini. Tur akan berlangsung mulai 12 Maret 2016 sampai waktu yang belum ditentukan. Tiga tempat sudah dikonfirmasi menjadi venue tur kali ini. Tempat itu adalah Sub Store (Tokyo), Half Tone (Tokyo), GC Live (Nagoya). Sejauh ini, Osaka dan Kyoto, dua kota lain yang hendak disambangi belum memberi kepastian venue.

Demi melancarkan tour-nya, Mocca akan ikut melelang Vinyl album “Friends”. Vinyl ini akan dilelang oleh pihak Sub Store sebagai pihak yang memang mengajak Tesla Manaf untuk melakukan tour Jepang ini. Karena dalam waktu bersamaan Sub Store akan membuka cabangnya di Tokyo, Jepang. Dan Tesla Manaf akan perform di pembukaan Sub Store ini pada 12 Maret 2016 mendatang.

Jadi untuk Swinging Friends yang tertarik untuk ikut lelang silahkan datangi langsung Sub Store di Pasar Cikapundung Bandung atau Pasar Santa Jakarta. Atau kunjungi official site mereka di substore.co.

………………………………………………………………………………………………………………………………………..

IMG_2280.JPG

Sehari setelah tulisan di atas dilansir, kami mendapatkan sebuah bingkisan paket piringan hitam Mocca berjudul Friends, masih baru, rilisan FFWD records 2014, disertai dengan tanda tangan seluruh personilnya. Girang bukan kepalang, Mocca mendedikasikan piringan hitam first pressnya untuk dilelang sebagai dukungan terhadap Tesla Manaf.

Sebagai penyalur amanat, kami akan mengumpulkan dana dengan memulai melelang piringan hitam ini, besok pukul 17.00 sampai dengan 11 Februari 2016. Dimulai dari angka 100.000 rupiah dan naik dari kelipatan 50.000 rupiah.

Bila kamu tertarik ikutan silakan ikut melempat penawaran di instagram @substore_. Kalau belum berminat bergabung bisa membantu menyebarkan tulisan ini. Terimakasih banyak.

 

 

 

 

 

Salam,

 

 

Intan Anggita

co-founder Substore

Lelang Lenco L78

IMG_1900

Lenco L78 merupakan salah satu turntable hi-end legendaris sepanjang masa, buatan Switzerland yang rilis di awal tahun 70-an, teruji memiliki kualitas kekuatan seperti tank, platter yang dibuat sangat solid dan berat (sekitar 7kg-an) dengan sistem balance yang sangat akurat khas swiss, memiliki 4 speed putaran yaitu 78,45,33,16 yang mana bisa diatur diantaranya secara mendetail sehingga sangat populer di jamannya. Dipakai oleh DJ dan standard broadcast kala itu. Hal pembeda dengan pendahulunya Lenco L75 adalah L78 memiliki fitur auto stop untuk putaran lalu tonearm naik dan L78 memiliki suspensi di 4 titik sehingga meredam getaran dari sekitar dengan sangat baik.

***

Melalui lelang ini kami ingin mengumpulkan dana untuk Tur Tesla Manaf ke Jepang. Kondisi turntable; mulus, terdapat tanda bekas pemakaian pada ujung body, tutup mika perlu diperbaiki namun engsel lengkap, namun kondisi tersebut tidak mempengaruhi hasil suara dan performa putaran. Harga dibuka dengan 6 juta rupiah.

Untuk rekan-rekan yang ingin ikut, silakan memberikan penawarannya di kolom komentar dan kirimkan biodata ke substore14@gmail.com. Bilamana email data belum kami terima, penawaran dalam kolom komentar tidak akan diindahkan.

Pelelangan akan ditutup pada tanggal 31 Januari 2016.

Lelang Piringan Hitam Djanger Bali

FullSizeRender (2)FullSizeRenderimage

Mengambil dari penjelasan Alfred Ticoalu Arsip Jazz Indonesia:

Djanger Bali oleh Indonesian All Stars (IAS) merupakan salah satu dokumen penting karya seni khususnya dalam sejarah pertumbuhan musik jazz di Indonesia. IAS merupakan sebuah kelompok yang memainkan musik jazz dan para personilnya bisa dikatakan sebagai para pelopor musik jazz Indonesia; termasuk seorang pemain alat tiup jazz berkelas internasional dari Amerika Serikat. Tidak itu saja, penampilan mereka juga mendapat perhatian dan pengakuan dunia internasional.

Cikal bakal IAS sudah muncul sejak awal dekade 1960 dengan berkunjungnya Tony Scott ke Indonesia. Semasa Indonesia masih dipimpin Bung Karno, Tony Scott sempat berkunjung, bermusik dan mengajar di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut dia banyak berinteraksi dan bermain dengan para musisi jazz Indonesia pada waktu itu. Sayangnya keberadaan beliau tidak lama karena dia sempat membuat masalah dengan Bung Karno ketika dia tampil di Istana Negara yang menyebabkan dia diperintahkan untuk segera meninggalkan Indonesia.

Sesudahnya, saat dia di Eropa, Tony Scott bertemu dengan seorang produser, penulis, dan kritikus jazz terkemuka dari Jerman, Joachim E. Berendt, di mana Scott sempat bercerita tentang musisi-musisi jazz Indonesia yang dikenalnya. Pada sekitar awal 1966, Berendt berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan sebagian dari mereka. Sebagai tindak lanjutnya pada tahun 1967 Berendt dan rekan-rekannya memanggil mereka untuk tampil dan rekaman di Jerman sebagai Indonesia All Stars. Untuk menambah daya tarik kelompok ini, Tony Scott kembali dipadukan mereka.  Hal ini bagaikan pedang bermata dua: karena Scott sudah kenal dan tahu permainan mereka plus keberadaan Scott memberikan kemungkinan lebih besarnya animo calon pendengar.  Bagaimana pun, nama Tony Scott jauh lebih dikenal di Eropa saat itu ketimbang musisi-musisi Indonesiatersebut.

Dokumentasi rekaman IAS tercipta selagi mereka berada di Jerman Barat untuk tampil di Berlin Jazz Festival dan beberapa klub jazz. Walau pun pada waktu festival itu Maryono jatuh sakit keras di atas panggung sehingga kelompok tersebut tidak bisa tampil secara penuh, Bubi Chensempat ber-jam sessions bersama para musisi jazz internasional seperti Philly Joe JonesManfred SchoofTony Scott, dan lain-lain.

Rekaman mereka di SABA Records studio pada 27 dan 28 Oktober 1967 melahirkan sebuah album yang berjudul “Djanger Bali”. Album ini kemudian sempat dilepas kembali di awal 1969 atau 1970 ketika SABA diambil alih atau dikonsolidasikan dengan MPS/BASF. Dalam bentuk digital, kita masih bisa mendapatkan album tersebut sebagai rangkaian produk dari MPS “Jazz Meets the World No. 2: Jazz Meets Asia”.

Para pemain IAS secara lengkapnya adalah Bubi Chen (piano, kecapi), Jack Lesmana (gitar), Maryono (tenor sax, flute & vokal), Yopi Chen(bass), Benny Mustafa van Diest (drum) serta seorang bintang tamu yang sudah akrab dengan mereka semua sebelumnya Tony Scott (klarinet). Selain dipercaya sebagai pianis kelompok tersebut, Bubi Chen juga membawa kecapi untuk mengusung identitas instrumen tradisional Indonesia untuk menunjukkan tempat asal mereka. Dan juga sekiranya untuk menunjukan kekayaan eksplorasi yang dapat dikembangkan lewat musik jazz dengan berbagai bentuk kebudayaan dari sepenjuru dunia. Di samping itu, hal ini adalah usaha mereka untuk memperkenalkan musik tradisional Indonesia yang dipadukan dengan jazz ke dunia internasional sebelum kelompok-kelompok kontemporer sesudahnya, seperti Krakatau, yang kita kenal sekarang melakukan hal yang serupa.

Dalam album ini terdapat 6 komposisi yang terdiri dari 3 komposisi tradisional Indonesia, 1 komposisi baru bernafaskan tradisional, 1 komposisi standard, dan 1 komposisi baru pada saat itu dari Eropa. Dari sisi tradisional, ‘Djanger Bali’ (karya Bubi Chen), ‘Gambang Suling’, ‘Ilir-Ilir’, dan ‘Burungkaka Tua’. Dari sisi standard ‘Summertime’ sementara dari sisi kontemporer Eropa ‘Mahlke’.

Menurut Bubi Chen, ‘Djanger Bali’ ditulisnya berdasarkan inspirasi dari tarian tradisional populer dari Bali ‘Djanger’.  Seperti yang bisa kita bayangkan, komposisi dan improvisasi nya merujuk kepada salah satu tangga nada musik klasik tradisional dari Bali. Sisipan bunyi gamelan dari Bali lewat dentingan piano muncul di awal dan akhir komposisi ini sementara di antaranya dimunculkan kesan tersebut dengan suara gitar yang seolah-olah menjadi suara gong.

Komposisi selanjutnya adalah ‘Mahlke’.  Sayangnya, ‘Mahlke’ hanya bisa didapatkan di piringan hitam karena lagu tersebut tidak diturut sertakan dalam bentuk digital ketika dilepas ulang dalam bentuk CD. Bagaimana sampai mereka dapat berpikir untuk memainkan lagu tersebut dan merekamnya? Joachim Berendt ketika datang ke Indonesia membawa pita kaset album milik Attila Zoller hasil rekaman-nya untuk SABA yang saat itu masih dalam proses mastering dan belum dilepas secara umum. Di dalamnya terdapat ‘Mahlke’, yang sebenarnya merupakansound-track dari sebuah film Jerman yang berjudul “Katz und Maus,” yang diangkat dari hasil karya tulis Gunter Grass. Setelah Jack Lesmana mendengar lagu tersebut, dia menjadi gemar dan dalam waktu singkat mampu menguasainya. Ketika IAS diboyong ke Jerman, mereka sudah  bisa memainkan lagu itu secara baik dan akhirnya direkam sebagai salah satu lagu di dalam album “Djanger Bali”. Nampaknya ini dilakukan sebagai daya upaya untuk memancing orang-orang yang tidak atau kurang mengerti musik tradisional Indonesia – yang dikombinasi jazz – untuk mengetahui kalau mereka ini  juga dapat memainkan komposisi straight ahead. Solo Jack Lesmana menunjukkan secara tegas kepiawaian dirinya sebagai salah satu gitaris jazz terhandal dari negeri kita sepanjang masa.

Permainan kecapi Bubi Chen dan flute Maryono dalam ‘Gambang Suling’ menambah kesyahduan nuansa Jawa di album ini. Teknik call and response yang dilakukan secara gemulai oleh Bubi Chen lewat dentingan piano dan petikan kecapinya memberikan makna terdalam dalam improvisasi komposisi ini. Selipan double-time yang cerdik memberikan nuansa penuh swing. Ini juga menunjukkan pengaruh tradisi gamelan Bali dengan dinamika yang sangat menonjol.

Lirik ‘Ilir-ilir’ dinyanyikan oleh Maryono namun sepertinya tidak dengan penghayatan yang mendalam. Namun demikian, solo saxophone Maryono di komposisi ini menunjukkan kelas beliau sebagai seorang instrumentalis kelas dunia yang layak disandingkan dengan Archie Shepp; yang menurut penulis merupakan salah satu sumber inspirasi teknik dan solo improvisasinya.

‘Burungkaka Tua’ merupakan contoh teknik permainan modal yang paling menonjol di album ini. Jika didengar secara sekilas mungkin anda tidak bisa mengenali komposisi ini sebagai ‘Burungkaka Tua’ yang akrab dalam benak anda.  Secara linear dan dekonstruktif, komposisi ini dipilah dan didaur ulang sedemikian rupa menjadi sebuah komposisi baru yang menawan.

‘Summertime’ menunjukan IAS menguasai komposisi standard ini dan bahkan dengan citra latar musik Sunda memberikan identitas khas yang hanya bisa dilakukan oleh kelompok ini. Solo improvisasi Bubi Chen merupakan bagian terpenting dari komposisi  ini. Secara unik, dia juga secara langsung, sengaja atau tak sengaja, menunjukkan latar belakang musik klasik yang masih cukup kental dalam dirinya pada saat itu. Pengaruh berbagai komposisi piano karya Chopin bisa didengar dalam solonya.

Menariknya secara global pada waktu itu gerak musik jazz sedang dalam masa penuh semangat mencari pendekatan baru untuk mengembangkan interaksinya dengan jenis musik lain. Hal ini menjunjukan juga ide segar dan keberanian IAS yang tentunya didukung oleh dorongan dan visi akan perkembangan musik jazz di Indonesia khususnya.

***

Melalui lelang ini kami ingin mengumpulkan dana untuk Tur Tesla Manaf ke Jepang. Kondisi piringan hitam Djanger Bali MPS Jerman ini mint (90 persen) dan dibuka dengan harga 1,5 juta rupiah. Untuk rekan-rekan yang ingin ikut, silakan memberikan penawarannya di kolom komentar dan kirimkan biodata ke substore14@gmail.com. Bilamana email data belum kami terima, penawaran dalam kolom komentar tidak akan diindahkan.

Pelelangan akan ditutup pada tanggal 31 Januari 2016.