Awal Mula Substore

Record Store Day tahun 2014, Intan, Aria dan Andhika yang tinggal di Tokyo menggenapkan niat untuk memulai sebuah usaha, toko kecil di pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan bernama Substore. Awalnya kami bermaksud untuk berjualan barang-barang yang kami suka, barang bekas yang terkurasi dan rilisan fisik musik. Ada piringan hitam (used item), barang-barang Sight from The East, buku fotografi, kaset (used item), cd (used item) dan baju band (used item). Terkadang ada musisi yang menitipkan karyanya serta merchandise untuk titip jual.

Dengan ukuran sekitar 2×2 meter kami harus mengatur dengan cerdas bagaimana barang-barang tersebut terlihat rapi dan menarik. Akhirnya dengan bantuan Andromedha Pradana, Substore yang super imut ini bisa cukup dengan berbagai jenis barang.

abcd coffee

Hanya ditemani oleh kedai kopi (A Bunch Of Caffeine Dealer) yang sewaktu-waktu buka bila ada barista yang hendak kompetisi, kami bahagia sekali mempunyai toko kecil ini. ABCD sendiri kurang lebih sudah setahun buka di sana. Di lantai bawah ada kedai kopi yang sudah cukup lama di pasar Santa, ia lumayan tenar, Dapoer Kopi (spesialis kopi Sapan dan Yale, Toraja).

dapoer coffee 1

Saat pembukaan beberapa pedagang pasar yang sudah lama berdagang di pasar Santa ada beberapa yang mewanti-wanti kalau di lantai paling atas ini sepi pengunjung. Celotehan seorang tukang sayur langganan tidak pernah bisa kami lupa, saat itu ia melempar candaan; “Duh neng, lalat aja ogah main ke atas…”

Itu tidak menjadi alasan kami untuk ciut nyali. Seminggu 3 kali saja kami buka waktu itu dan sendirian rasanya kurang enak. Selalu kami sempatkan untuk mengirim pesan agar kedai kopi pun buka dan pasar tidak terlalu sepi. Kami ditemani oleh barista-barista yang sedang latihan untuk kompetisi saat itu. Saya mencoba membujuk mereka untuk iseng buka kedai kopi sesuai dengan waktu buka Substore. Kala itu masih Selasa, Sabtu dan Minggu. Namun akhirnya cita-cita ABCD untuk menjadi sekolah barista terwujud di bulan ketiga kami buka, saat itu kami tidak hanya berdua, sebuah record store baru saja buka di sebrang, Laidback Blues Store.

agogo

Sebenarnya sebelum kehadiran Substore, di pasar Santa lantai atas ada pula kedai roasting Orkide yang buka saat ia hendak meroasting saja.

orkide

Lalu kami, Laidback Blues, ABCD dan Substore kerap berbincang, mengkhayal lalu mengajak teman-teman kami untuk datang. Siapa tau ada keinginan mereka untuk membuka kios di sini. Tanpa terasa 4 bulan sejak kami buka, kios di pasar Santa sudah banyak yang menyewa dan kebanyakan mereka bukan orang asing. Mereka adalah teman-teman yang seringkali datang di acara pop up ABCD, restock Substore atau sekedar nongkrong di Laidback.

Kini pasar Santa sudah menjadi destinasi penyuka kopi, makanan enak dan musik bagus. Dikarenakan keberadaannya berada di pasar konvensional tidaklah mengherankan harga makanan dan barang-barangnya pun relatif terjangkau.

Walau di luar sana beredar opini pasar Santa kini dikenal sebagai pasar hipster, para pemilik kedai di pasar Santa hanya menanggapinya dengan santai dan tertawa. Lahan ekonomi kreatif yang mandiri pasti akan memancing komentar pro dan kontra, bagaimanapun satu hal yang membahagiakan bagi kami, Pasar Santa lantai atas bisa hidup lagi setelah 7 tahun mati segan hidup tak mau dan semangat saling mendukung rekan-rekan kreatif terasa sekali di sini. Untuk melihat keseruan pasar Santa, bisa diintip Instagramnya di @pasarsanta atau cek hastag #pasarsanta #anakpasar dan #ngopidipasar.

pasar santa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s